Kita pasti pernah jadi bocah (ya
iyalah :v). Kita pasti merasakan betapa indahnya masa bermain-main dengan bocah.
Main petak umpet, kelereng, layangan dan lain lain yang pasti bukan main
perasaan cewek pastinya. Pikiran kita saat itu masih baru dan banyak
terinspirasi dari apa yang kita lihat, misalnya melihat tentara berbaris rapi
membuat kita sentak mengucapkan pingin jadi tentara, melihat pilot terbang
gagah di angkasa membuat kita pingin jadi pilot dan sebagainya seolah olah kita
pasti akan mencapai cita cita dengan gampang apalagi orang tua pasti akan
mengamini cita cita kita pada saat itu.
Aku dulu juga punya cita cita.
Masuk SD aku pingin jadi astronot karena menurutku astronot paling keren pool saat itu dan bertahan sampai SMP.
Cita cita jadi astronot mulai pudar saat SMP karena melihat kenyataan jadi
astronot banyak hal yang harus dikuasai, sedangkan otakku mulai semrawut jangankan memenuhi 10 persen
dari kriteria astronot, aku masih gelagapan garap persamaan garis dan aljabar
sederhana. Aku mulai berfikir mungkin SMA aku bisa menemukan jawabannya.
Saat SMA pun aku masih belum bisa
menemukan jawaban mau kemana masa depanku. Aku memilih teknik sipil pun
terbilang perjudian, aku saat itu masih belum paham apa itu teknik sipil dan
bagaimana kerjanya tapi itulah hidup harus memilih pilihan masa depan. Mungkin
inilah rejekiku. Aku berusaha bagaimana bisa masuk teknik sipil. Dan dari
berbagai seleksi perguruan tinggi yang terlewati akhirnya inilah masa depanku,
di teknik sipil Universitas Jember.
Aku memulai kehidupan kampus tidak
mudah lagi. Awal aku masuk dengan hasil semester 1 tidak mulus. Aku agak susah
beradaptasi dengan kawan kawan kampus saat itu. Bahkan semester 6 itu masa
paling sulit. Malas yang jadi momok mengerikan bagi mahasiswa, kehidupan dalam
dan luar kampus berantakan hingga IP semester saat itu dibawah 2 koma 4.
Setelah itu kehidupanku membaik
saat masuk semester 7 perlahan aku mulai memperbaiki diri dan banyak ngulang mata kuliah sehingga sementara
IPK bisa terangkat. Perlahan hidupku menuju arah yang benar (menurutku).
Namun memasuki skripsi mulai jatuh
lagi ketika laporan lab hilang entah kemana sehingga mentalku down lalu vakum selama 3 bulan lamanya.
Kemudan dapat hidayah lagi dari alam bawah sadar. Aku berfikir aku gak mau
hidup selamanya menghindar dari masalah, aku harus hadapi semuanya. Kemudian
aku mengulang lagi dari awal ngelab lagi dan bisa tertata sedikit demi sedikit.
Masa terbaik dalam kehidupan kampus
yaitu pada semester 9 (tahun ke 4,5) aku punya teman-teman seperjuangan yang
belum lulus saat itu. Kami sering banyak waktu ngopi dan bicara tentang yang sebenarnya banyak gak penting :v.
Namun bagian “gak penting” ini yang paling penting menurutku. Hal ini membuat
kami menemukan chemistry ala teknik
yang terkenal kompak dan semakin rekat persahabatan. Hal non teknis ini membuat
lebih termotivasi untuk menyelesaikan skripsi. Baru kali ini aku merasa diriku
anak teknik di semester 9 setelah dari maba hingga semester 8 mengalami masa
kelam. Dan akhirnya bisa lulus sebagai sarjana teknik (S.T) dengan hasil yang
baik walau di halaman persembahan tidak ada namanya sang kekasih wkwkw (Mungkin
kisah cinta di kampus akan dibuatkan post tersendiri :P).
Kisah persahabatan ini terus
berlanjut hingga sekarang. Aku dan teman-temanku bekerja bareng di dinas cipta
karya di Jember. Alhamdulillah berkat teman seperjuangan semester 9 aku bisa
sampai sekarang. Rasanya bisa bersyukur apa yang aku dapat sekarang. Setelah
lulus tidak sempet nganggur hehehe.
Satu semester yang pasti aku kenang seumur hidup.
Entah kenapa cita-cita jadi
astronot bisa nyasar jadi insyinyur
sipil wkwkwk yang pasti aku tidak akan menyesal dengan kenyataan ini. Walau perjalanan
hidupku tidak mulus sesuai ekspetasi yang terpenting aku selalu bersyukur apa
yang telah aku dapatkan. Boleh saja kita bermimpi setinggi mungkin, juga kita harus menerima konsekuensinya yaitu wujudkan mimpi. Tak apalah kita terlanjur tak bisa mewujudkan mimpi, syukuri jalan hidup kita sendiri dan jangan patah arang, temukanlah mimpi barumu dari sekarang lalu wujudkan lagi dan seterusnya sampe jadi buku pengalaman hidup yang berkesan J.
Man of the match dari jaman sebelum skripsi/sebelum semeter 9 sampe sekarang
"Lulus 9 semester" squad yang banyak assist memukau ke jaman skripsi (dan sampe sekarang)
Dan hasil usaha selama 9 semester (yaelah mukaku ketutupan pula -_-)



Komentar
Posting Komentar